masuk lagi :)

January 5th, 2009

Bismillah…

Hari ini masuk kampus lagi setelah total 2 minggu izin. Semoga semakin SEMANGAT!!!

Cuma bedanya mungkin pulang maksimal jam 5 sore dari kampus, kasihan suami kalau istrinya pulangnya kemaleman, hehe…

Sekali lagi : SEMANGAT!!!

Dies Natalis UGM ke 59 : Jalan Sehat Indah

December 15th, 2008

Sabtu, 13 Desember 2008 lalu, sebagai salah satu rangkaian kemeriahan Dies Natalis UGM ke-59, diadakan lomba Jalan Sehat Indah. Fakultas Farmasi setelah bertahun-tahun tidak pernah mengirimkan tim putri, rupanya tahun ini bertekad untuk bisa ikut. Nah, saya sebagai dosen termuda ikut ketiban sampur mengemban tugas tersebut -hahahahahahaha!-. Ya sudahlah, saya pikir gak papalah, meski 2 minggu lagi saya akan menjalani perhelatan akbar (menikah_red.), toh tahun depan saya gak janji bakal bisa ikut.

Tim kami ini cukup spesial, karena latihan hanya 4 hari, targetnya tidak muluk-muluk, yang penting berani maju dan tidak malu-maluin Fakultas, itu saja. Awalnya saya masih semangat tinggi, tapi begitu tahu kostum seperti apa yang akan dipakai, saya langsung malu bukan kepalang. Ternyata karena jalan sehat ini menitikberatkan “indah”-nya, maka berbeda jauh dengan bayangan saya yang menitikberatkan pada “baris-berbaris” ala militer (tadinya saya pikir ini bisa menebus masa SMU saya yang tidak pernah mencicipi manisnya jadi anggota tim peleton inti). Menurut para “pendahulu” yang sudah bertahun-tahun mengamati event ini, intinya adalah keunikan dari tim itu sendiri, termasuk kostum, yang menjadi kriteria penilaian utama. Akhirnya saya hanya bisa menabahkan diri, ada teman yang nyeletuk : “Sudah, besok nggak usah malu, sementara malu-nya dititipkan ke official“, haha benar juga…

Akhirnya hari yang dinanti tiba, pukul 6.00 kumpul di Fakultas, setelah lengkap baru menuju GSP. Sesampainya di GSP, wuahahahaha -gedubrak!!!-, ternyata banyak tim lain yang jauh lebih banyak harus menitipkan malu ke official masing-masing, alias kostumnya lebih heboh!!! Peserta tidak hanya dari kalangan UGM, tapi juga dari luar UGM, misalnya ISI (yang niat banget pakai kostum Puka-puka), Bank Mandiri dan STTNAS.

(1)…Tim Jalan Sehat Farmasi Putri berpose di depan GSP…

(2)…Siap sedia grak!!!…

(3)…Saya yang tadinya sempat syok ketika tahu kostum yang harus dipakai malah jadi kelewat PD setelah melihat kelompok lain yang jauh lebih heboh…

Menempuh jarak kurang lebih 6 km yang dibagi dalam 6 pos, akhirnya acara ini berakhir sekitar pkl 11 siang. Saya harus kembali ke Fakultas karena harus mempersiapkan materi untuk History Week hari Seninnya -salah satu alasan untuk tidak berlama-lama terpanggang di lapangan-. Dan… tebakan saya benar, mahasiswa dari Fakultas Hukum berhasil meraih juara. Ternyata memang mahasiswa itu lebih kreatif daripada karyawan dan dosennya…

Dosen & Guru : agent of simplifying

December 15th, 2008

Beberapa waktu lalu, awal Desember, sewaktu ribet-ribetnya melengkapi syarat-syarat pemberkasan, saya tidak sengaja mendapat “tohokan” tentang menjadi dosen. Psikiater yang memeriksa saya untuk mendapat surat keterangan sehat rohani mengajak saya ngobrol, mungkin karena perawakan saya yang memang kecil dan memang seperti anak kecil, saya ditanya : “Sudah siapa menjadi seorang dosen?” Ya saya jawab, “Mau gak mau ya harus siap. Cuma kadang semakin ke sini saya merasa semakin tidak tahu apa-apa”, jawab saya yang menurut saya sudah cukup diplomatis. Tapi ternyata sang dokter malah menyela, “Wah ya kalau itu belum siap, seorang pengajar, pendidik itu harus bisa simplify everything.”

Sampai disitu saja, saya masih gak ngeh, sampai akhirnya selang beberapa hari saya mendapat sebuah e-mail dari seorang teman yang dulu satu perjuangan di KKN. Isinya sebagai berikut :

Guru Fisika yang Inspirasional
Oleh JANSEN H. SINAMO

JAM tujuh pagi, suatu hari pada tahun 1981, di sebuah ruang kuliah kuno bersuasana gelap dan kelam, yang dibangun pada zaman Belanda, sebuah kuliah fisika yang sangat modern segera akan dimulai. Fisika kuantum nama kuliah itu.
Hariadi Paminto Soepangkat—doktor fisika zat padat lulusan Universitas Purdue, Indiana, AS—sang dosen yang berkulit putih bersih bertubuh tinggi besar yang dibalut busana rapi lengkap pakai dasi bak eksekutif bisnis itu, telah berdiri penuh wibawa di hadapan sekitar 150 mahasiswa dari tiga jurusan: fisika, astronomi, serta geofisika dan meteorologi.
Belum dua puluh menit kuliah berjalan, usai Pak Hariadi menggambar orbit-orbit lintasan elektron pada atom hidrogen di papan tulis, tiba-tiba nama saya dia panggil.
“Saya, Pak,” jawab saya agak terkejut sambil mengangkat tangan.
“Kota asal Saudara di mana?” tanyanya sambil menuruni panggung kuliah yang rapat dengan papan tulis dan berjalan mendekati tempat saya duduk di barisan depan.
“Sidikalang, Pak,” jawab saya.
“Oh ya? Kata Pak Andi Hakim Nasution, Rektor IPB, daerah Saudara penghasil kopi ya? Kopi Sidikalang enak kata Pak Nas. Betul?”
“Betul, Pak,” jawab saya sumringah.
“Sidikalang itu berapa kilometer jaraknya dari Medan?”
“Seratus lima puluh kilo Pak.”
“Kalau naik bis ke Medan berapa ongkosnya?”
“Lima ribu, Pak.”
“Kalau uang Saudara cuma tiga ribu, sampai di mana itu?”
“Berastagi, Pak.”
Sambil memandang kepada semua mahasiswa sesudah kembali ke panggung kuliah, Pak Hariadi berkata, “Kira-kira seperti inilah yang dimaksud dengan energi ambang. Jika uang Saudara Jansen cuma tiga ribu, itu tidak cukup mengantarnya sampai ke Medan. Jadi, lima ribu adalah uang ambang yang diperlukan agar dia bisa sampai ke Medan dari Sidikalang.”
“Nah, demikian pula elektron: dia butuh energi ambang, itu energi yang minimum, untuk bisa pindah ke orbit yang lebih tinggi. Kita sudah tahu bahwa energi itu tidak kontinum, melainkan diskrit, artinya terkuantifikasi. Paket-paket energi yang terkuantifikasi ini dalam bentuk radiasi atau gelombang disebut kuanta energi, yang besarnya menurut Max Planck adalah hv, di mana v  frekuensi radiasi itu dan h adalah konstanta Planck yang besarnya 6,626×10-pangkat-minus-34 joule-detik. Elektron hanya bisa punya energi dalam kelipatan bulat kuanta ini. Tidak hanya pada elektron tetapi juga foton dan semua zarah renik di tingkat subatom. Inilah asal-usul nama kuantum pada fisika kuantum yang kita pelajari ini. Fisika kuantum mempelajari perilaku zarah-zarah subatomik, dinamika dan interaksinya, serta relasinya dengan medan yang memengaruhinya.”
Entah apa lagi yang dikuliahkan Pak Hariadi pagi itu saya sudah lupa. Tapi, saya terpesona sudah. Sidikalang dan saya jadi pusat perhatian seluruh kelas dan terutama Pak Hariadi. Cuma beberapa menit saja sorotan lampu perhatian itu, tapi sudah cukup membuat saya merasa diri spesial.
Dan sejak momen itu rasa suka saya berlipat ganda kepada Pak Hariadi. Sebagai akibatnya, berlipat ganda pula minat saya pada fisika kuantum.
Singkat cerita, pada ujian akhir semester itu saya mendapat nilai A.
Dan ini tidak lazim. Jarang sekali saya mendapat nilai A. Di kelas saya angkatan 1978, saya cuma mahasiswa rata-rata: mayoritas nilai saya adalah C, agak lumayan dapat B, tapi yang mendapat nilai A sungguh sangat sedikit.
Tapi, mendapat nilai A pada fisika kuantum selangit rasanya. Buat saya itu setara dengan nilai A pada sepuluh mata kuliah yang lain. Fisika kuantum adalah salah satu mata kuliah paling bergengsi di Jurusan Fisika, kreditnya maksimum: empat. Bukan cuma itu, di zaman  itu, cuma ada dua mata kuliah fisika yang dianggap dahsyat: fisika kuantum dan teori relativitas. Yang terakhir ini belum disajikan di tingkat S1. Fisika kuantum pun sebenarnya baru cuma pengantar pada kuliah sepenuh: mekanika kuantum, yang akan disajikan nanti di tingkat S2.
Saya juga takjub pada diri sendiri. Mengapa mendadak saya jadi pintar sekali? Tapi, saya akhirnya menyadari: itu semua karena cara dan gaya Pak Hariadi mengajar kami memang luar biasa.
Betapa tidak. Dia selalu sudah ada di kelas sepuluh menit sebelum jam kuliah dimulai. Di hampir semua mata kuliah lain, mahasiswa yang menunggu dosen. Tapi Pak Hariadi sebaliknya.
Pak Hariadi selalu tampil necis: busananya, kebersihannya, dan istimewa tulisannya. Dia membersihkan sendiri papan tulis dengan kain lap basah yang dibawanya dari kantornya. Ada tiga papan tulis di kelas kami. Dibersihkannya dulu papan tulis ketiga saat dia mulai memakai papan tulis pertama, sehingga papan tulis ketiga itu sudah kering saat dia akan memakainya. Demikian seterusnya sampai kuliahnya yang berdurasi 100 menit itu selesai.
Lima tahun saya kuliah di ITB, tidak pernah saya bertemu dengan dosen lain yang mampu menyamai kerapihan dan keindahan tulisan tangan Pak Hariadi.
Pak Hariadi juga pekerja cepat. Hari ini ujian, besoknya jawaban soal-soalnya sudah tertempel di papan pengumuman. Di Jurusan Fisika hanya Pak Hariadi yang mampu dan disiplin berbuat demikian.
Dia pun hafal nama semua mahasiswa yang diajarnya. Pada setiap kuliah ia mampu memanggil nama mahasiswa secara acak, dan seperti saya di atas setiap mahasiswa yang terpilih namanya disebut diajaknya berinteraksi. Dan dari interaksi pendek itu, tiba-tiba bisa keluar ilustrasi untuk menjelaskan konsep fisika kuantum. Bukan saja ilustrasi itu sangat menolong, karena membumi bahkan personal, tetapi di tingkat psikologis sang mahasiswa merasa dilibatkan, bahkan dijadikan bintang pada momen pendek itu. Tak pelak kuliah Pak Hariadi selalu digandrungi. Fisika kuantum jadi mudah dimengerti, gampang diikuti, dan menarik ditelusuri.
Pak Hariadi sangat jauh dari jenis dosen yang memetik rasa puas karena pelajarannya sukar diikuti. Ia bukan tipe dosen yang berbahagia melihat mahasiswa pusing tujuh keliling, lalu takut pada dosennya, dan jeri pada pelajarannya. Sedikit pun tak ada perangai galak padanya apalagi killer. Ia memenuhi  tanda-tanda orang cerdas seturut pendapat Einstein: bahwa orang cerdas ialah orang yang mampu membuat perkara sulit jadi mudah dipahami, sedangkan orang bodoh sebaliknya, membuat perkara mudah jadi sukar dimengerti. Fokus kedosenan Pak Hariadi ialah bagaimana agar mahasiswanya bisa mudah memahami pelajarannya supaya dengan begitu tumbuh gairah, minat, dan kecintaan pada pelajaran itu sendiri. Jadi, sebenarnya tidak mengherankan saya bisa medapat nilai A.
Sesampai di Sidikalang, saat libur panjang semester, sensasi kebanggaan mendapat nilai A itu masih terus berdenyut. Tak tahan, saya pun menulis sepucuk surat kepada Pak Hariadi. Saya ungkapkan rasa syukur dan terima kasih saya dan khususnya kedahsyatan cara mengajarnya saya apresiasi dengan rinci.
Eh, surat saya dibalasnya dengan cepat. Katanya dari sekitar 30 mahasiswa yang mendapat nilai A, cuma saya yang menulis surat. Gantian dia yang berterima kasih. Di ujung suratnya, sesudah menitipkan salam kepada orangtua saya, dia mengundang saya ke kantornya usai libur. Waktu itu Pak Hariadi adalah Dekan Fakultas MIPA. “Saya ingin mengenal Saudara lebih dekat.” katanya.
Tak sabar saya menunggu waktu untuk kembali ke Bandung. Berhubung kopi Sidikalang sudah disebut-sebut di awal kuliah, itu pula oleh-oleh yang saya bawa buat beliau. Ketika orangtua saya tahu kisah dosen yang istimewa ini, Ibu saya mengusulkan memberikan ulos sebagai cinderamata. Ulos dan kopi, itulah yang kemudian saya bawa ke Bandung.
Ke kantor dekan F-MIPA, saya pun menghadap. Di ujung percakapan, tanpa saya duga, Pak Hariadi meminta agar saya bersedia menjadi asistennya. Terhenyak saya. Tubuh ini mendadak ringan rasanya, seperti kapas di awang-awang layaknya. Tak berpikir panjang tawaran itu segera saya sambut.
Ketika Pak Hariadi sadar bahwa saya membawa ulos sebagai cinderamata, dia sempat tertegun lalu berkata, “Wah, istri saya harus ikut bersama saya menerima ini. Terima kasih. Ini penghargaan yang sangat tinggi.”
Malam itu juga, di rumah Pak Hariadi di perumahan dosen Sangkuriang, saya pun menjadi tamu keluarga, diundang makan malam bersama, dan kemudian bercakap-cakap dengan akrab. Di situlah ulos dan kopi Sidikalang saya serahkan.
Sampai akhirnya saya tamat pada akhir 1983––saat itu Pak Hariadi sudah menjabat sebagai Rektor ITB––saya terus membantunya sebagai asisten kuliah fisika kuantum.
Diajar oleh Pak Hariadi dan menjadi asistennya sesudahnya merupakan salah satu pengalaman akademik paling berkesan dan terpenting buat saya selama kuliah di ITB Bandung.
Kini saya berpendapat, andai kata semua guru matematika, fisika, kimia, dan biologi di tingkat sekolah lanjutan di negeri ini sanggup mengajar secerdas dan sebaik Pak Hariadi, niscaya mata pelajaran-mata pelajaran keras itu tidak akan pernah jadi momok buat anak-anak muda kita. Bahkan, matematika dan sains akan jadi mata pelajaran favorit.

Wah ternyata, pak dokter tersebut mensitasi kalimat Einstein…

Ini benar-benar jadi battle yang harus ditaklukkan bagi saya, mengingat banyaknya mahasiswa yang curhat betapa susahnya belajar imunologi. So, simplify the immunology? Haha, harus bisa, SEMANGAT!!!

Perkenalkan…

December 11th, 2008

Assalamualaikum wr wb

Perkenalkan, nama saya Muthi’ Ikawati. Saya termasuk anak baru -baru lahir malah- sebagai staff dosen di UGM, tepatnya di Fakultas Farmasi. Per 9 Juni 2008 lalu saya diangkat sebagai Tenaga Pengajar di Bagian Kimia Farmasi, dan alhamdulillah secara resmi per 1 Desember 2009 memenuhi formasi CPNS untuk kompetensi yang sama.

Kesibukan saya di kampus selama kurang lebih 6 bulan ini -sejak Juni 2008- sebagian besar adalah mengerjakan riset, sekaligus untuk tesis juga yang alhamdulillah sudah selesai. Saya juga aktif di Cancer Chemoprevention Research Center (atau lebih akrab disingkat CCRC), suatu grup penelitian di Fakultas Farmasi UGM. Di grup ini pula secara terintegrasi saya selain dibimbing juga membimbing adik-adik S1 dalam PKM dan juga skripsi. Prestasi yang dihasilkan oleh adik-adik CCRC ini cukup menggembirakan, misalnya berhasil memboyong medali emas di ajang PIMNAS di Unissula Juli 2008 lalu, oral presenter terbaik di berbagai kongres dan seminar , baik nasional maupun internasional. Untuk lebih lengkapnya silakan lihat di htt://ccrcfarmasiugm.wordpress.com.

Wah, saya malah jadi kurang banyak bercerita tentang saya sendiri ya…

Baiklah, secara pribadi saya akan mengenalkan diri. Sebagai anak pertama dari 3 bersaudara, saya tinggal di Yogyakarta ini bersama kedua adik saya yang masih berstatus mahasiswa (FMIPA UGM dan FKUI UIN Suka). Untuk sementara saya belum menikah, tapi insya Allah 2 minggu lagi saya resmi jadi istri, hahaha mohon doanya ya… Saya mulai tinggal di Yogyakarta tercinta ini tahun 2001, saat mulai menjalani status mahasiswa tahun pertama di Fakultas Farmasi. Lulus Agustus 2005, langsung melanjutkan ke jenjang profesi selama 1 tahun. Setelah lulus Agustus 2006, saya sempat “keluar” sejenak dari UGM untuk bekerja di perusahaan swasta. Tapi karena masih merasa kurang dan ingin melanjutkan sekolah, maka saya memutuskan resign dari perusahaan tersebut dan memulai kuliah di S2 Ilmu Farmasi UGM sekaligus aktif di CCRC pada September 2007. Nah selanjutnya dengan melewati proses yang cukup membuat saya jatuh-bangun-terseok-seok, sampai juga saya di sini. Itu semua tentu tidak lepas dari bimbingan dan doa orangtua, saudara, dan juga para guru.

Target saya jangka pendek, semester depan saya sudah bisa mulai mengajar di kelas dan sudah lebih fokus ke arah bidang studi yang saya ampu, yaitu Imunologi.

Mungkin cukup ini dulu sebagai perkenalan, semoga dengan adanya blog ini saya lebih bersemangat dalam berkarya…

Wassalamualaikum wr wb.